Pengalaman Pertama jadi Anak Kantoran

Sudah satu minggu saya melewati hari-hari di Ibukota. Kali ini untuk bekerja. Sebelum-sebelumnya kalau ke Jakarta hanya untuk main dan kerja praktek (cuma sebulan). Saya masuk kerja tepat 2 minggu setelah wisuda Februari kemarin. Well, Ini bukan pertama kalinya saya meninggalkan ayah dan ibu. Pertama saat saya meneruskan pendidikan S1 di kota gudeg, Yogyakarta, dan kali ini untuk bekerja di salah satu lembaga swadaya masyarakat atau biasa disingkat LSM di Jakarta. Agak sedih memang meninggalkan orangtua lagi, dan juga meninggalkan kota Jogja tercinta beserta makhluk-makhluk kesayangan di dalamnya. Tapi mau gimana lagi, waktu saya tidak untuk bermain-main lagi dan tujuan sudah di depan mata. Cuma ikhlas yang bisa saya lakukan.

Kebanyakan dari teman-teman saya, bahkan semuanya, tidak tahu apa itu TAF dan bergerak di bidang apa. Saya juga awalnya sangat awam dengan nama ini, kemana lagi mencari tahu kalau tidak berakhir di kotak mbah google. TAF merupakan salah satu LSM internasional yang berkantor pusat di San Fransisco dan membentuk jaringan di 17 negara di Asia, salah satunya di Indonesia. Lebih jelasnya silakan klik di sini. Tidak jauh beda dengan LSM lainnya, program-program yang dibuat oleh TAF ditujukan kepada masyarakat. Intinya, kepedulian terhadap kelangsungan hidup masyarakat. Di TAF ini sendiri, lebih menekankan pada hak asasi manusia, pemerintahan dan hukum, dan perdamaian di wilayah Asia. Karena lembaga ini adalah lembaga internasional, maka tidak heran apabila yang berlalu lalang di kantor TAF adalah warga negara asing.

Baru sedikit mengenal TAF, sudah dikenalkan nama baru lagi yaitu Ditjenpas. Ketika interview, pertama kali berhadapan dengan pihak TAF di bilangan Blok M, kemudian langsung interview user pada hari yang sama di Ditjenpas dengan alamat yang asing bagi saya. Jalan Veteran. Saat itu saya terpaksa harus naik TransJakarta (TJ) yang tidak seberapa pantas (kalau sekarang sih udah lumayan armadanya nambah dan baru), karena hanya itu kendaraan terpercaya yang murah dan bersih. Kalau beruntung bisa duduk, kalau apes ya berdiri desel-deselan. Huft saya termasuk orang yang sering apes.

Curhat dikit tentang TJ. Tadi saya bilang kalau saya “terpaksa” naik TJ dari kantor TAF hingga kantor Ditjenpas. Alasannya, karena saya nggak bawa duit lebih untuk naik taxi, juga saya ragu kalau harus naik angkutan. Sebenarnya saya kecewa sama TJ. Dan kalau tidak kepepet, saya nggak mau naik TJ lagi. Awalnya sih saya nggak masalah dengan keawutan TJ, tetapi setelah negara api menyerang… Bermula dari shelter Blok M (shelter paling dekat dengan kantor TAF) yang sangat mbingungi, karena saya orang baru jadi saya harus tanya pada orang berseragam. Oh men! Ternyata letaknya di dalam pasar Blok M! Yakali banget orang kaya saya bisa ngerti. Hasilnya saya celingukan di dalam pasar. Kemudian estimasi waktu yang selalu salah, karena tidak bisa memprediksi kedatangan TJ yang kadang dilanda macet. Karena takut telat dateng sampai Kantor Ditjenpas, saya jadi mempersiapkan waktu 3 jam menggunakan TJ. Padahal nyampe disana ga sampe 2 jam. Saya dateng kecepetan. Anggep aja nilai tambah saya nggak telat dateng. Setelah saya tahu dari Maps, dari Blok M ke Jalan Veteran adalah perjalanan dari Selatan ke Utara sekitar 10 km. Kalau dianalaogikan di Jogja, bagaikan dari Parang Tritis ke Kaliurang. Lebay, paris ke kaliurang kan lebih dari 40 km -__-

Pada interview user, saya dihadapkan oleh 4 panelis yang merupakan tim dalam divisi Infokom di Ditjenpas. Pada sesi itu, dijelaskan apa yang akan saya kerjakan jika saya diterima di sana. Terdengar asing tetapi menarik. Nama-nama software jaringan yang baru pertama kali saya dengar, rencana kegiatan yang akan saya lakukan saat bekerja di sana, dan satu hal lagi yang bikin saya tertarik adalah pekerjaan ini berhubungan dengan lapas dan rutan. Lapas? Rutan? Yap, lembaga permasyarakatan dan rumah tahanan. Ditjenpas yang merupakan kepanjangan dari Direktorat Jenderal Permasyarakatan, mempunyai tugas merumuskan dan melaksanakan kebijakan dan standarisasi teknis dibidang Pemasyarakatan. Salah satu fungsinya adalah melaksanakan administrasi Direktorat Jenderal. Lebih jelasnya bisa diklik di sini Pekerjaan saya nanti seputar pendataan seluruh warga lapas/rutan di seluruh Indonesia, termasuk napi dan pegawainya dengan cara remote access.

The hell.

Dulu saya tidak pernah mau tahu mengenai istilah-istilah kriminalitas semacam ini. Agak ragu, tapi tidak ada salahnya jika dicoba. Pekerjaan saya pun nanti mengenai jaringan, jadi tidak perlu takut dan diambil pusing mengenai napi dan kawan-kawannya. (bayangan saya dan teman-teman saya dulu, pekerjaan saya akan berhadapan langsung dengan napi. Bisa ketemu Rapi Amad ga yaa? Hihi..)

Setelah interview, saya pun berdoa dalam – dalam, dan sungguh – sungguh, semoga diterima. Amin.

Perjalanan tidak mudah, Sob. Pengumuman tak kunjung datang, dan selama itu saya mencoba peruntungan dengan mengikuti banyak tes pekerjaan. Kurang lebih tiga bulan lamanya setelah saya interview pada akhir November 2012, kabar baik pun datang pada pertengahan Februari 2013. Saya mendapatkan kabar kalau saya memenuhi kualifikasi untuk bekerja di TAF. Tetapi agak kurang jelas penjelasannya apakah saya diterima atau tidak. Selang beberapa hari, akhirnya saya pun mendapatkan kepastian bahwa saya diterima di TAF. Alhamdulillah, doa saya terkabul, sujud syukur kepada Allah SWT.

Hari pertama, saya langsung bekerja di Ditjenpas, lantai 6. Di dalam ruangan terdapat 5 orang yang merupakan satu tim di divisi Infokom. Sebagai anak baru, saya selalu jaim di setiap kondisi, saat berbicara pun harus dijaga. Kemudian saya dikenalkan pada semua anggota tim, yang ternyata semuanya telah berkeluarga. Saya kecewa. Setelah itu saya diberikan pengarahan oleh Pak Sofyan, yang merupakan “boss” dalam tim tersebut. Lalu, saya disuruh melakukan instalasi dan mempelajari “mainan” baru. Selebihnya, waktu berjalan dengan cepat menuju jam makan siang, dan kekecewaan saya agak terbayar dengan pemandangan di kantin. Pemandangan. Yeah, apalagi kalau bukan … Selanjutnya, hampir tidak terasa sudah jam pulang.

Dibawah ini, gambar kiri, adalah gambar ruangan yang ada di lantai 6. Tapi Ini bukan gambar depan kantor saya, tapi sebrangnya. Saya belum sempet capture ruangan saya bekerja. Yang kanan, iseng aja pas depan lift mau turun, saya foto-foto. Hehehe.

lantai 6

lantai 6

Keesokan harinya adalah hari libur, sehingga kantor juga libur, saya kedatangan tamu dari Jogja yang merupakan teman kampus sendiri. Hari itu full jalan-jalan.

Hari Rabu adalah hari ketiga saya bekerja. Orang yang bekerja dalam tim bertambah satu orang, yang kemarin ternyata tidak masuk. Pekerjaan mulai tampak, berkutat dengan laptop, mendata sekian banyak orang dari analog ke digital (red: membaca data scanan tulisan tangan yang terkadang bikin emosi, kemudian diketik di komputer). Hari itu pun tak terasa sudah jam makan siang lalu jam pulang.

Hari keempat adalah hari yang bisa dikatakan hari berdosa. Karena saya merasa magabut alias makan gaji buta. Hari itu tidak banyak yang dilakukan, hanya mengamati laptop, menunggu client jika ada yang ingin melakukan konsolidasi, lalu belajar mengenai software. Sisanya? Buka blog kuliner Jakarta, dan melakukan aktivitas sosialita. Oia, pada hari itu, anggota tim muncul satu lagi karena kemarin-kemarin tidak masuk. Jadi dalam satu tim terdiri dari 7 orang ditambah saya menjadi 8 orang. Kemudian tak terasa waktu sudah lewat dari jam semestinya pulang.

Hari terakhir saya bekerja di minggu ini adalah hari Jumat! Yeay! Saya baru merasakan mengapa hari Jumat sore adalah hari yang paling ditunggu orang kantoran. Weekend! Besoknya bisa suka-suka mau kemana aja. Yang saya lakukan ketika weekend pertama, yaitu hari Sabtu adalah…. Tidur! Tidur sakpuase, bangun sakpenake, lalu bengong. Bangun cuma buat mandi, makan, bobo lagi. Hari Minggunya pun sama. Bahkan mandi paginya dirapel di sore, hehehe. Enaknya weekend, bisa males-malesan sebentar sebelum banting tulang lagi. Lebay.

Sebenernya kegiatan weekend diatas adalah efek dari ketidakadaannya dana yang mencukupi untuk jalan-jalan, sedemikian sehingga yang bisa saya lakukan hanyalah di kost. Mengapa saya tidak memiliki dana? Dana sih ada, hanya tidak bisa dimiliki secara nyata. Ini semua dikarenakan kedodolan saya saat mengambil uang di ATM pada hari Jumat sore, pulang kantor, habis nyasar sampai Tomang. Saat uangnya keluar dari mesin, tidak segera saya ambil. Ternyata, ada batasan waktunya, jadilah uang itu masuk lagi ke dalam mesin beserta kartunya yang tidak mau keluar. Panik? Tidak. Hanya saja mengapa besok itu Sabtu dan Minggu? Kan diurusnya tidak bisa besok. Kata mbak call centernya, “datang hari Senin ya mbak.” Satu kata, APES. Mungkin kurang sedekah. Maka dari itu weekend pertama saya di Jakarta berjudul Menunggu Kost-an.

Eniwei, besok sudah hari Senin yang berarti mulai workdays lagi. Antara senang dan sedih. Katanya kawan, dibawa have fun aja!

Cheers!

Advertisements

One thought on “Pengalaman Pertama jadi Anak Kantoran

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s