Isn’t it good, norwegian wood?

Ini blongnya jarang di tengok, sebentar ya.. bersih-bersih sarang laba-laba dulu.

 

Nah, udah bersih.

Kali ini, untuk memulai postingan pertama di tahun 2014, saya akan membicarakan tentang salah satu novel dari seorang penulis asal Jepang, Haruki Murakami.

Butuh waktu hingga empat hari untuk menyelesaikan novel Norwegian Wood yang diterjemahkan oleh Jay Rubin dari bahasa Jepang ke bahasa Inggris. Bagi saya, empat hari adalah angka yang cukup besar untuk menghabiskan novel semenarik ini yang jumlah halamannya tidak terlalu banyak, yang saya baca ini tidak menyentuh angka 350.

Karena ini english version, di tengah jalan, saya menemui -banyak-pake-banget- kosakata baru yang membuat saya mengerutkan dahi dan berteriak dalam hati.

Mbokne, iki artine uopohh? Precocious, murky, slogged, reverberation, . . .

Kemudian saya berhenti sebentar, menatap ke langit, memejamkan mata, kemudian… merenung. Memikirkan simbok.

.
.
.
.

Wait, skip, skip.

Oke serius. Kebetulan waktu itu saya lagi nganggur, jadi… dengan rajinnya saya mencari arti kata-kata susah tadi di digital dictionary, alias aplikasi kamus di laptop/hp.

Saking rajinnya, sampe saya tulis lagi di sebuah buku khusus. Khusus! Niatnya biar nggak lupa. Tapi tapi tapi, yang ada malah jadi sering liat contekan, bukannya dihapalin, miaw.

Beda cerita kalau lagi males atau lagi seru-serunya baca, saya mencoba memahami arti dari rangkaian kalimatnya –dengan sotoy, hingga sekiranya dapat dipahami. Istilahnya, pasrah gitu deh. Tapi ya lumayan bisa ngasah otak yang jarang terpakai ini.

Beklah langsung saja inti dari post ini, review! Speaking of review, this is my first! Uyeah! –penting.

[SPOILER ALERT]

Barisan kata yang dituang oleh Murakami mampu menghipnotis saya dari awal membacanya. Seolah seluruhnya mengalir tanpa henti. Awalnya, saya sempat bertanya-tanya tentang pemilihan judul Norwegian Wood.

Kenapa sih harus kayu Norwegia? –oh please, jangan maki saya. Saya kehilangan ide, hingga akhirnya saya mencari sinopsisnya di situs goodreadsdotcom tapi malah nemu jawabannya di list komentarnya dan barulah saya mengerti bahwa judul buku tersebut  diambil dari salah satu judul lagu dari The Beatles. Ketahuan banget kalau saya bukan fanatiknya Beatles, huhuhu. Saya semakin penasaran apakah ada hubungannya judul tersebut dengan keseluruhan isi novel ini.

Di permulaan, Murakami menempatkan pembaca sebagai pemeran utama yaitu Toru Watanabe, yang sedang dalam perjalanan menuju Hamburg menggunakan pesawat. Ketika sampai di bandara, ia mendengar lagu Norwegian Wood yang membuatnya menyelam dalam kenangan lebih dari 10 tahun ketika ia masih bersama dua sahabatnya di Kobe, Jepang.

Berlatarkan penghujung tahun 1960-an, Watanabe, seorang pria berkehidupan normal yang sangat antusias dengan buku, memiliki sahabat bernama Kizuki dan Naoko yang merupakan sepasang kekasih yang tumbuh besar bersama sedari kecil.

Kehidupan Watanabe yang semula normal, berubah menjadi sangat buruk ketika Kizuki memutuskan untuk bunuh diri di usia 17 tahun. Entah apa yang melatar belakangi tindakan tersebut. Sempat terjadi jeda untuk memikirkan penyebabnya, kemudian pemikiran itu saya tepis dan memutuskan untuk menikmati alur cerita. Toh nanti juga tahu sendiri, semoga.

Watanabe melukiskan kesedihan yang amat mendalam karena Kizuki adalah satu-satunya sahabat lelaki yang ia miliki. Ia pun memutuskan untuk meninggalkan kampung halamannya dan mendaftar kuliah di Tokyo untuk melupakan kejadian tragis Kizuki. Ia bahkan tak pernah bertemu dengan Naoko semenjak saat itu.

Dalam kisah perkuliahannya, Watanabe memilih tinggal di sebuah asrama, tujuannya agar dapat mengusir rasa kesendiriannya semenjak kematian Kizuki. Ia mendapat roommate yang bertingkah aneh. Selalu memperhatikan kebersihan dan melakukan senam yang aneh, senam Callisthenics. Pendeskripsian tingkah laku roommate Watanabe yang akrab dipanggil Trooper ini sangat menghibur dan mendapatkan ruang tersendiri bagi pembacanya. Terutama saya. Senam “Callisthenics” sungguh asing di telinga saya (bahkan saya harus googling untuk mendapatkan artinya).

Suatu hari Watanabe bertemu dengan Naoko setelah sekian lama berpisah, dan mereka tidak membahas Kizuki sama sekali. Mereka pun sempat merayakan hari ulang tahun Naoko yang ke-20 dan membangun suasana romantis yang justru membuat Naoko berubah pikiran. Naoko menghilang.

Karakter Watanabe yang polos dan optimis membuat saya ikut mendukungnya dalam meraih cinta Naoko. Watanabe mulai menyurati Naoko yang dialamatkan ke rumah orang tuanya. Ia berharap Naoko baik-baik saja.

Time flies, dan Watanabe tetap harus menjalankan hidupnya walau menyimpan kegundahan karena diam-diam Watanabe menaruh harapan kepada gadis yang pernah menjadi kekasih sahabatnya. Cukup lama ia menunggu balasan surat dari Naoko hingga akhirnya saat itu tiba. Isinya sungguh membuat Watanabe semakin gundah. Naoko mengatakan bahwa ia tidak siap untuk bertemu Watanabe, untuk sementara.

Rasa simpati saya terhadap Naoko memudar dan perhatian saya berhasil dialihkan dengan munculnya karakter Midori. Gadis menarik yang penuh kejutan dan digambarkan dapat meredam kagalauan Watanabe terhadap Naoko. Pemikiran Midori yang out of the box, penuh khayalan dan selalu ceria membuat saya menjadi berubah pikiran, ‘bisakah Midori menggantikan posisi Naoko di hati Watanabe?’

Semenjak meninggalkan Watanabe, Naoko memutuskan untuk tinggal di sebuah sanatorium. Lokasinya jauh dari pusat kota, bahkan dari Kyoto masih jauh menuju gunung. Menurut cerita Reiko, sahabat Naoko di sanatorium, tempat ini biasanya digunakan untuk pemulihan pasien setelah sakit. Banyak relawan yang bekerja di sana. Laiknya sebuah rumah sakit, di tempat tersebut juga terdapat dokter dan suster tetapi hanya melakukan pengecekan kondisi setiap pasien.

Atas permintaan Naoko dalam suratnya, Watanabe akhirnya berangkat menemui Naoko di tempat tinggal barunya, Ami Hostel. Nama yang cukup ganjil, mengingat tempat tersebut adalah sebuah sanatorium. Banyak hal yang dilakukan oleh Watanabe, Naoko, dan juga Reiko, yang telah menjadi sahabat baru bagi Watanabe. Salah satu yang menarik adalah ketika Reiko menyanyikan lagu Norwegian Wood berdasarkan request Naoko.

Singkat cerita, Watanabe mendapatkan kabar kematian Naoko. Belum jelas  sebabnya. Watanabe frustasi. Ia pun memutuskan untuk menyendiri beberapa saat. I feel you, Watanabe. Sedih sekali membayangkan ditinggal seseorang yang telah menjadi bagian dalam hidup, selamanya.

Selang beberapa bulan setelah kematian Naoko, Reiko memutuskan untuk mengunjungi Watanabe di Tokyo. Dari pertemuan tersebut akhirnya Reiko menceritakan runtut cerita kematian Naoko. 😥

 

Kesan-kesan: Well, dari keseluruhan cerita, saya lebih menyukai cerita yang memuat hubungan yang samar antara Watanabe dan Midori daripada keoptimisan Watanabe yang begitu jelas mencintai Naoko. Walaupun saya mengetahui keadaan psikis Naoko yang menyebabkan ia begitu labil.

Tapi tapi tapi, as Midori herself had said, she was a real, live girl with blood in her veins. And the significant part, Midori tidak memiliki sejarah sepahit Naoko. Agak jahat sih alasannya tapi begitulah adanya. Karena itu saya merestui mereka berdua.

Mungkin tujuan Murakami memang ingin membangun emosi yang amat kuat dalam hubungan persahabatan antara Watanabe, Kizuki, dan Naoko. Sehingga, ketika Kizuki meninggal, hanya ada Watanabe dan Naoko yang memegang keseluruhan cerita. Dan ketika Naoko meninggal, Watanabe mengalami depresi yang terlampau dalam.

Seperti buku-buku sebelumnya yang pernah saya baca (tapi belum sempat saya review) seperti 1Q84 dan Sputnik Sweetheart, ada ciri ‘khas’ yang saya tangkap dari seorang Murakami. IMHO, beliau sering memasukkan sentuhan pengetahuan musik dan buku klasik/jadul, menciptakan karakter –mostly lelaki yang sangat bersahabat dengan buku, dan juga menghidupkan suasana dengan sexual scene. Banyak pembaca yang terganggu dengan karakter menulis Murakami. Tapi menurut saya, hal tersebut justru menambah referensi pengetahuan walaupun bukan untuk konsumsi pembaca dibawah umur.

Dalam Norwegian Wood ini, banyak banget referensi musik yang membuat saya tergoda untuk mendengarkannya –termasuk judul buku ini, dan juga ada satu judul buku yang membuat saya ingin membacanya walau sudah dibikin film yag saya belum tonton, The Great Gatsby by F. Scott Fitzgerald.

Norwegian Wood sempat disebut beberapa kali dalam cerita ini, salah satunya ketika Naoko meminta Reiko untuk memainkan lagu itu dengan gitarnya. Kala itu Naoko mengatakan tiap ia mendengar lagu tersebut, ia membayangkan berada di dalam kayu yang sangat dingin dan gelap, kesepian dan tak ada yang menyelamatkannya. Hmm, setelah saya hayati liriknya… simpel tapi ngenes. Check this out

I once had a girl, or should I say, she once had me

She showed me her room, isn’t it good, norwegian wood?

She asked me to stay and she told me to sit anywhere

So I looked around and I noticed there wasn’t a chair

I sat on the rug, biding my time, drinking her wine

We talked until two and then said, “it’s time for fed”

She told me she worked in the morning and started to laugh

I told her I didn’t and crawled off to sleep in the bath

And when I awoke I was alone, this bird had flown

So I lit a fire, isn’t it good, norwegian wood?

– The Beatles, Norwegian Wood

 

Untuk isi cerita, Recommended! Saya kasih  Bintang Empat.

Dan… jawaban untuk pertanyaan “Saya semakin penasaran apakah ada hubungannya judul tersebut dengan keseluruhan isi novel ini” adalah…. Yes, ada.

Oia, hingga akhir saya tidak mendapatkan kesimpulan mengapa Kizuki memutuskan bunuh diri. Apa saya melewatkan sesuatu?

 

 

Cheers!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s